ETIKA JAWA : Franz Magnis Suseno

Aug 19,2018

Tulisan ini merupakan hasil review sebuah buku dari karya Franz Magnis Suseno, yang diterbitkan di Munich pada tahun 1981 dengan judul Javanische Wheishet und Ethik. Di Indonesia, buku ini berjudul persis seperti kalimat pada judul di atas.

Karya dari Romo Magniz ini merekonstruksi pikiran kita mengenai deskripsi penilaian tentang pandangan baik dan buruk perilaku masyarakat Jawa. Khususnya mengenai perilaku dalam menjaga keselarasan kehidupan yang dibatasi orientasi Jawa pra-Islam. Pada pendahaluannya, buku ini menjelaskan mengenai batasan yang dimaksud dengan “orang Jawa”, “masyarakat Jawa” dan “etika Jawa”. Individu yang dimaksud dengan orang Jawa yakni, orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Jawa, yang mendiami daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pada buku yang berbeda—Abangan, Satri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa—Clifford Geertz menyatakan bahwa terdapat tiga inti struktur dalam masyarakat Jawa yakni desa, pasar dan birokrasi pemerintahan. Sejalan dengan pandangan tersebut, penulis buku lalu menyebutkan adanya pembagian masyarakat Jawa berdasarkan tiga golongan yakni, Wong cilik, Priyai dan Ningrat.

Masyarakat Jawa yang pemikirannya masih banyak dipengaruhi tentang etika yakni, kalangan yang juga disebut sebagai Abangan. Kalangan ini dalam kesadaran dan cara hidupnya sangat ditentukan oleh tradisi-tradisi Jawa pra-Islam, namun juga berusaha hidup menurut ajaran agama Islam atau yang kini kita sering sebut sebagai Kejawen. Akan tetapi tidak hanya penganut Kejawenyang memberlakukan etika Eawa yang dibahas dalam buku ini, melainkan masyarakat Jawa secara umum, yang menjaga nilai-nilai dalam etika Jawa.

Pada intinya, nilai-nilai dalam etika Jawa terfokus pada satu prinsip yang disebut sebagai keselarasan. Apapun yang dilakukan masyarakat Jawa dalam kehidupannya akan selalu menjaga prinsip keselarasan ini. Sebagai prinsip utama nilai pada etika Jawa, kemudian memunculkan nilai-nilai lain sebagai prinsip pengembangan yang didasarkan pada prinsip keselarasan ini. Tidak heran jika masyarakat Jawa kemudian dikenal sebagai suku bangsa yang memiliki nilai tata karma yang tinggi di masyarakat.

Dalam kehidupannya, masyarakat Jawa sebenarnya tidaklah terfokus untuk menghasilkan sebuah keselarasan. Melainkan mereka yakin dengan pandangan bahwa keselarasan itu sudah ada di dalam kehidupan sehari-hari. Keselarasan ini bukan untuk diciptakan melainkan untuk dijaga. Keselarasan dan ketenangan merupakan keadaan normal yang akan ada dengan sendirinya selama tidak diganggu. Untuk menjaga hal ini, kemudian masyarakat Jawa mengembangkan norma-norma dalam bergaul dalam keseharian, di antaranya yakni rasa hormat, cara berbicara hingga menjaga rasa dan perasaan. Hal ini kemudian disebutkan sebagai prinsip kerukunan untuk menjaga keselarasan dalam pergaulan di masyarakat.

Dalam usaha menjaga keselarasan, masyarakat Jawa meyakini adanya kesatuan antara masyarakat, alam dan alam adikodrati. Dari sinilah masyarakat Jawa kemudian meletakkan dasar masyarakat dan kebudayaannya. Hubungan ini diselaraskan dengan kehidupan individu yang harus tepat pada tempatnya di masyarakat Jawa, sebagai kunci agar ketentraman dan ketenangan hati didapatkan sebagai keadaan selamat.

Selain berbicara mengenai keselarasan dalam nilai kerukunan, dalam pandangan Jawa juga terdapat pandangan yang menilai tentang kekuasaan. Dalam faham Jawa, kekuasaan adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dari definisi biasanya, ia merupakan ungkapan energi ilahi yang tanpa bentuk, dan selalu kreatif meresapi seluruh kosmos/alam. Individu yang berkuasa dianggap memiliki kekuatan batin, Oleh karenanya, kekuasaan raja bagi orang Jawa, disimbolkan melalui masyarakat dan alam yang selaras, sebagai bentuk kemampuan raja menjaga energi dalam kosmos.

Dalam hal ini, kekuasaan raja itu bukanlah digunakan, namun ia ada/hadir pada suatu individu yang mampu menampungnya. Kekuasaan tersebut dilihat sebagai realiatas adikodrati yang memberikan serta menentukan dirinya sendiri, di mana orang yang memilikinya merupakan wadah menampung kekuasaan yang jumlahnya tak terbatas, tetapi ia tidak dapat menentukannya. Dengan demikian, kita dapat melihat banyak realitas sakral yang berkumpul disekitar raja, sebagai bentuk pengumpulan kekuasaannya, semisal keraton, upacara adat, berbagai benda dan tempat yang dianggap sakral.

Hal lain yang menjadi prinsip keselerasan dalam kehidupan masyarakat Jawa juga terdapat pada kepercayaan untuk menjaga diri dari dua bahaya, yakni napsu dan egosime. Kedua hal ini akan memperlemah kekuatan batin seseorang untuk mengontrol sisi halus dirinya, dan cenderung berbuat yang tak terkendali, hingga pada akhirnya merusak ketentraman dan keselarasan yang ada.

Pada dasarnya orang jawa secara prinsip diharapkan untuk menjaga keselarasan sosial. Hal ini dilakukan dengan mencegah timbulnya konflik-konflik, sehingga tercapainya keselarasan dalam masyarakat yang sangat berhubungan erat dengan keselarasan kosmos. Melalui adanya keselarasan ini dapat disimpulkan bahwa, inti pada pembahasan etika Jawa terletak pada hubungan pemeliharaan keselarasan dalam masyarakat dengan alam raya. Hal ini akan tercapai apabila individu mampu menjaga sisi halusnya sebagai kebijaksanaan yang berdasarkan kepentingan sebagai manusia.

Buku ini mengajarkan kita tentang keyakinan masyarakat Jawa yang telah bercampur dengan berbagai nilai (Hinduisme, Bhudaisme, dan Islam). Deskripsi teoritis yang dibangun, sekiranya masih relevan untuk menjelaskan keyakinan masyarakat Jawa hingga saat ini. Hal terpenting yang diuraikan dalam buku ini adalah adanya satu kesatuan nilai yang mempengaruhi kehidupan. Satu kesatuan ini yakni, antara perilaku individu dalam bermasyarakat sangat erat dipengaruhi dengan alam adikodrati yang metaempiris. Hal ini sebagai sebuah jalan kebijaksanaan hidup untuk diamalkan sebagai orang Jawa yang hidup di masyarakat Jawa.

Namun, pemahaman yang terdapat di dalam buku ini, setiap konstruksi teoritisnya tidak dapat begitu saja mengeneralisir seluruh masyarakat Jawa. Selain itu, perlu diperhatikan juga, tentang pemaknaan yang dibangun mungkin akan mengalami sedikit pergeseran apabila melihat kehidupan masyarakat Jawa di perkotaan. Karena kehidupan di perkotaan memiliki variable yang dirasa lebih dominan mempengaruhi perubahan konsep yang telah dijelaskan sebelumnya.

Telepas dari kelebihan dan kekurangan dalam buku ini, tetap saja hasil karya dari Franz Magnis Suseno menjadi sebuah rekomendasi bacaan yang bagus. Sangat sesuai untuk mereka yang bukan merupakan orang Jawa namun telah menetap lama di tanah Jawa. Berikut buku dari Romo Franz, bagi anda yang ingin memahami lebih jauh pemaknaan yang terdapat di dalam buku ini.

Iklan Share this:
Sukai ini:Suka Memuat... Terkait