Kars Gombong Selatan Dan Tiga Tahun Perjuangan Melawan Pengerusak Alam

Aug 19,2018

Perjuangan melawan neo-liberalisme telah tertoreh di dalam abad-abad sejarah peradaban manusia, ketidak-adilan dan ketimpangan sosial adalah tumbal dari sistem korup (sistem kufur) yang menyengsarakan jutaan manusia sebangsa. Selama suatu negeri masih te

rus digrogoti para kapitalis birokrat bersama kartel-kartel investor trans-nasional, maka penjajahan telah menjadi mesin-mesin eksploitasi sepanjang masa yang tidak akan pernah berhenti mengeruk sumber daya alam bumi rumah manusia ini hingga habis, di mulai dari pengalih fungsian negara agraris yang hidup dari kekayaan sumber daya alam dengan cara merusak dan merampas penghidupan hajat hidup pertanian, sehingga memaksa mereka menjadi buruh kasar perkotaan yang sebagian besar industri dan pusat pasar modal telah dikuasai oleh stakeholder-stakeholder negara-negara imperialis dengan faham berorientasi profit dengan memanipulasi tatanan sosial yang konsumtif dengan khayalan-khayalan yang membuat masyarakatnya cenderung apatis dan oportunis, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang tinggi sadar sosialnya, melainkan membuat mereka menjadi saling sikat dan saling sikut karena semua ukuran tatanan sosialnya adalah uang.

Pegunungan Kars Gombong Selatan mempunyai nilai karunia Alloh SWT yang masih cukup sedikit disadari oleh sebagian manusia yang telah bersandar dari kelestarian dan kesuburan alamnya, menjelang akhir masa rezim orde baru masyarakatnya pernah mengalami upaya-upaya perampasan lahan “secara wajar” oleh pemrakarsa industri ekstraktif bahan baku semen dengan memboncengi aparatur negara tingkat daerah. Pegunungan Karst Gombong Selatan memiliki struktur kualitas batuan gamping berumur lebih dari 50ribu tahun sehingga sangat ideal untuk dijadikan campuran material bahan baku gedung-gedung pencakar langit, namun di sisi lain kelestarian pegunungan ini telah memenuhi kebutuhan air bagi ratusan ribu jiwa yang tinggal disekitarnya, berdasarkan artikel GeoMagazine terbitan tahun 2015, menerangkan bahwa pada tahun 1995 hingga 2000 para peneliti karst dari Prancis pernah melakukan riset panjang ditelusuran sungai-sungai bawah tanahnya, melimpahnya sumber mata air dipegunungan ini sangat luar biasa sehingga mereka mengatakan bahwa di bawah pegunungan kars ini terdapat sejenis “giant underground delta” yang bisa diartikan juga tangki air raksasa yang tidak pernah habis meskipun diatas permukaannya mengalami kemarau lebih dari 50 tahun.

Pasca krisis yang memuncak tahun 1998 pergonta-gantian kekuasaan tidak kunjung merubah nasib bangsa yang lebih baik, para pemangku kekuasaan masih saja bermimpi dengan bersandarkan pada sistem kufur ini dapat membawa masa depan bangsa yang lebih baik. Pada tahun 2016 MEDCO dengan label PT Semen Gombong sebagai pemrakarsa kembali merencanakan izin usaha penambangan bahan baku semen di Kawasan Bentang Alam Karst Gombong Selatan, syukur berkat ridha Alloh SWT melalui upaya penolakan para warga, rencana pengerusakan alam tersebut dapat terhenti untuk sementara. Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gombong Selatan yang dilindungi saat ini telah berkurang, di mana sebelumnya seluas 48,94Km persegi pada regulasi KepMen ESDM Nomor 961.K/40/MEM/2003. Pemda Kebumen yang difasilitasi pemrakarsa telah memanipulasi regulasi KepMen ESDM 2003 dengan maksud mengurangi kawasan lindung KBAK menjadi 40,08Km persegi melalui KepMen baru yang cacat hukum ber Nomor 3873 K/40/MEM/2014. Rencana pengeksploitasian kawasan lindung KBAK untuk pertambangan ekstraktif semen saat ini pula akan diperkuat, dengan merubah regulasi tata ruang wilayah Kabupaten Kebumen Nomor 23 Tahun 2012 dimana luasan kawasan lindung KBAK-nya masih sesuai dengan KepMen ESDM 2003 seluas 48,94Km persegi menjadi 40,89Km persegi dimana selisihnya 8,05Km persegi akan diperuntukan secara tata ruang wilayah kabupaten sebagai wilayah pertambangan.

Kenyataan ini memperlihatkan bahwa perjuangan warga para petani PERPAG yang ingin tetap melestarikan Pegunungan Karst Gombong Selatan telah berhadapan dengan sepak terjang yang merusak pegunungan karst Gombong Selatan secara sistematis, di tambah lagi PT Semen Gombong kini telah memegang IUP baru yang nantinya akan di susul dengan sidang amdal baru di mana akan merevisi kekurangan-kekurangan pada sidang amdal sebelumnya.

Pada momen Memperingati 3 Tahun Perjuangan Warga PERPAG pada tanggal 14 Agustus 2018 wajib bagi warga Masyarakat Kars untuk kembali memperkuat ikatan perjuangan, karena hampir semua prasyarat regulasi pertambangan di Pegunungan Kars Gombong Selatan akan terpenuhi. Makauntuk mempertahankan hak untuk hidup layak adalah memperkuat barisan penyelamatan pegunungan kars, karena ancaman sedang mengintai
titik kelemahan yang akan memecah belah kebersatuan warga, seperti yang telah terjadi didaerah-daerah konfik agraria lainnya di negeri ini.

Panjang Umur Perjuangan Rakyat !
Tambang Berhenti Bumi Lestari !

Iklan Share this:
Sukai ini:Suka Memuat... Terkait